Keluarga Ini Mohon Bantuan Bedah Rumah dari Pemerintah Sijunjung | Redaksi Sumbar

Keluarga Ini Mohon Bantuan Bedah Rumah dari Pemerintah Sijunjung

Keluarga Ini Mohon Bantuan Bedah Rumah dari Pemerintah Sijunjung Dibaca : 202 Kali
Bagikan:

SIJUNJUNG, RedaksiSumbar.com – Hidup dengan kemiskinan membuat keluarga Mirab, wanita 40 tahun, istri dari Syafrion (alm) harus bertahan hidup meski harus tinggal di gubuk berukuran 4×3 meter. Hal ini dilakukan keluarga Mirab bersama 2 anaknya selama enam tahun terakhir.

Ya, gubuk yang mereka tinggali berada ditengah persawahan. Lokasinya berada di Guguk Cabadak Tapian Diaro, Nagari Sijunjung, Kecamatan Sijunjung. Rumah berdinding tepas usang itu hanya berjarak sekira 70 meter dari jalan raya Kabupaten Sijunjung

Untuk bisa sampai ke kediaman keluarga Mirab, harus melewati pembatas sawah yang kondisinya licin. Apalagi jika malam, suasana gelap karena tidak ada lampu penerangan atau listrik di sana.

Dalam gubuk yang usianya sekira enam tahun itu, terdapat kamar kecil berukuran 2×2 meter. Antara ruang utama dan kamar itu dipisahkan dinding yang terbuat dari anyaman bambu dan terlihat sudah usang. Tampak jelas celah-celah bambu dinding itu kian membesar dan mulai lapuk. Sehingga, aktivitas di kamar itu pun terlihat jika dipandang dari ruang utama. Untuk mengatasinya, keluarga ini menempelkan potongan-potongan karung plastik yang tidak terpakai di sana.

Begitu juga dengan dinding luar gubuk mereka. Karung plastik berbagai warna menghiasi sekeliling gubuk yang kondisinya sudah sedikit miring itu. Setidaknya itu bisa menahan dinginnya tiupan angin malam.

Cahaya pada malam hari tak bersahabat dengan keluarga ini. Apalagi jika minyak tanah untuk menghidupkan lampu teplok habis, mereka harus rela bergelap-gelapan. Namun karena sudah terbiasa, semua hal itu tidak lagi menjadi keluhan. “Ya..Kami sudah berusaha, namun ini baru yang bisa. Mengeluh tak merubah apa-apa. Walau begitu, kami selalu sabgat mengharapkan adanya bantuan, minimal bedah rumah,” kata Mirab membuka cerita, Senin (11/04/2017) .

Baca Juga :  Pemuda Kreatif Jorong Ganting Sijunjung Gelar Open Turnamen Bola Mini Cup II

Saat berbicara dengan reporter Redaksi Sumbar.com, Mirab duduk di samping sebuah makam yang berjarak 3 meter dari gubuk tersebut. Dikatakan, makam yang dindingnya sedang dipegang Mirab saat itu adalah makam Suaminya.

“Siapa yang gak mau hidup layak, semua pasti menginginkan hal itu. Termasuk sekeluarga kami. Setidaknya bisa lebih nyaman untuk masa pertumbuhan kedua anak-anak ini,” ungkapnya.

Ya, kedua anak-anak mereka semakin hari tumbuh kian besar. Anak pertamanya, Siska Oktavia (perempuan) sudah tamat dari SMK tahun 2015 lalu, anak kedua Prima Priadi (laki-laki) duduk dibangku SLTPN 1 Sijunjung, kelas satu; umur 14 tahun ,tambahnya.

Butuh Bantuan Bedah Rumah

Menurut wanita yang menikah sejak tahun 2003 ini, yang paling utama mereka harapkan adalah bantuan bedah rumah dari pemerintah. Sebab selama ini, iming-iming akan mendapat bantuan bedah rumah selalu mereka dengar.

“Bahkan dulu sudah pernah didata oleh pihak Nagari. Tapi entah kenapa tiba-tiba tak ada lagi kabarnya. Saya dapat infomasi, camatnya diganti. Dulu saya pernah ditanya soal tanah ini. Saya bilang ini milik kami yang diwariskan orangtua. Kami sudah didata, katanya.

Bantuan bedah rumah itu, menurutnya bisa membuat mereka keluar dari gubuk derita. Kenapa gubuk derita? Menurut Mirab, setiap hari mereka harus waspada dari kondisi cuaca maupun hewan liar.

“Kami harus terus waspada terhadap binatang, seperti ular atau binatang-binatang yang biasa berkeliaran di persawahan. Sebab dinding rumah kami juga bolong-bolong. Sewaktu-waktu hewan itu bisa saja melintas atau datang, tidak menutup kemungkinan membawa masalah,” ungkapnya.

Yang sering terjadi dan menjadi masalah besar bagi mereka adalah ketika hujan deras turun disertai angin kencang.

“Maka masa istirahat pun menjadi waktu untuk menutup celah hujan atau menghindari percikan air hujan. Kami kan tinggal tiga orang dalam rumah. Jadi ruangan itu sempit. Apalagi jika peralatan, seperti tempat piring, baju atau buku ditempatkan tidak tertata rapi. Jadi himpit-himpitanlah,” kata Mirab.

Baca Juga :  Penggiat Kesenian Anak Nagari: Budaya Merupakan Jati Diri Suatu Daerah

Nah, saat cuaca sedang hujan itu, mereka sekeluarga dipastikan tidak bisa tidur. “Karena lantai pasti basah. Terpaksa semua harus bangun dan menunggu lantai kering. Tapi kalau hujannya lama, palingan kami menumpang tidur ke rumah tetangga yang berjarak 150 meter dari sini,” jelasnya.

Selain kondisi gubuk yang reot itu, keluarga ini juga memiliki kesulitan-kesulitan lain, seperti mendapatkan air bersih untuk mencukupi kebutuhan mereka.

“Kalau urusan mandi, mencuci piring serta mencuci baju, kami mengandalkan air irigasi yang keruh karena bercampur dengan air sawah. Air irigasi itu memang bisa kami ambil tak jauh dari rumah. Tapi kalau air minum, kita minta dari tetangga. Terkadang air hujan itulah yang kita manfaatkan untuk minum. Makanya musim hujan menjadi masa sulit dan masa baik bagi kami. Sulitnya, air hujan membasahi dinding dan lantai gubuk. Sedangkan baiknya, air hujan ditampung untuk kemudian dimanfaatkan menjadi air minum.”

Mengenai urusan kebutuhan sekolah anaknya, Mirab mengaku terkadang harus meminjam dari orang yang mepercayainnya.

“Pinjaman itu bisa dibayar saat musim menaman dan musim panen. Setidaknya diganti dengan tenaga. Tak kami pungkiri, kami bersyukur dengan adanya perhatian pemerintah melalui bantuan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) dan Kartu Indonesia Pintar (KIP),” sebut Mirab.

Sebab diakuinya, jumlah penghasilan yang tidak menentu membuat keluarga ini harus pintar mengelola uang. “Kalau bantuan itu datang, saya manfaatkan untuk membeli keperluan sekolah anak-anak, seperti buku. Memang saya juga agak kesulitan membiayai anak-anak sekolah, apalagi ongkos berangkat dan pulang sekolah. “Setiap hari harus ada paling tidak Rp.15 ribu setiap hari. Belum lagi urusan makan sehari-hari,” terangnya sembari tertunduk.

Sebelumnya, anaknya Siska Oktavia (20) mengatakan, untuk menopang hidup ia harus mengolah lahan persawahan seluas 1 rante yang diwarisan orangtuanya beberapa tahun lalu. Namun, hasil panen dari tanaman itu tidaklah dapat diandalkan. Makanya selain bertani, ia juga menjadi buruh tani dengan penghasilan Rp.50 ribu per hari. Itupun buruh musiman.

Baca Juga :  Sudah Sepekan Terbakar, Rumah Personil Satpol PP Ini Tak Kunjung Mendapat Bantuan

Untuk urusan makan, lanjutnya, keluarga ini harus bijak mengelola beras yang ada. “Memang tidak terlalu sering takaran makan dikurangi. Tapi ketika kondisi uang kosong, dan tidak bisa beli beras, makan pun harus dikurangi. Termasuk dengan lauk pauk seadanya. Yaitu ikan asin harga murah yang harganya Rp.10 ribu seperempat kilogram (2,5 ons, red). Ikan asin itu pun bisa untuk jatah 3 hari. Kalau soal itu, bisalah dikurangi jatah makan. Yang paling penting dan membuat kita waswas setiap malam, adalah hujan dengan angin yang kencang,” ujarnya.

Dikatakan Siska Oktavia, ia dan keluarganya tinggal di gubuk itu sejak enam tahun lalu. “Lebih baik tinggal di gubuk dari pada mengontrak rumah. Apalagi kami tak mampu membayar kontrakan. Tapi kalaupun ada uang, ya tak mungkin juga tinggal di sini.” katanya. [Ari Ayek]

Bagikan:
Tags: , , , , ,
Solok Selatan dalam Berita

No Responses


close