Di Pessel Tambang Galian C Meresahkan | Redaksi Sumbar

Di Pessel Tambang Galian C Meresahkan

Di Pessel Tambang Galian C Meresahkan
Komisi II DPRD Pessel, bersama perwakilan masyarakat setempat, Walinagari Inderapura Timur, dan Camat Airpura, saat meninjau langsung lokasi tambang galian C yang diduga melakukan kegiatan diluar titik koordinat. (Rega Desfinal)
Dibaca : 232 Kali
Bagikan:

PESISIR SELATAN, RedaksiSumbar.com — Menanggapi keluhan masyarakat terkait adanya aktivitas tambang galian C di Kenagarian Tigo Sepakat Inderapura, Kecamatan Pancungsoal, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel). Akhirnya Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pessel, dari komisi II bersama perwakilan masyarakat setempat, Walinagari Inderapura Timur, dan Camat Airpura, meninjau langsung lokasi yang diduga melakukan kegiatan tambang diluar titik koordinat.

Sebelumnya, laporan masyarakat tersebut kepada Walinagari Inderapura Timur, dan diteruskan kepada Camat Airpura, kemudian dilanjutkan ke pihak Kabupaten melalui Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dengan nomor 130/5/CA-2017 pada tanggal 2 Mei 2017 lalu.

“Dimana pada saat itu, sebanyak 33 orang masyarakat petani mengaku mengalami kerugian lahan lebih kurang seluas 20 hektare. Kemudian sekitar 500 meter lahan perkebunan dan pertanian milik masyarakat yang berada pada pinggiran sungai menjadi terban, akibat aktivitas penambangan bahan material galian C yang dilakukan oleh CV Mutia Anugerah di Nagari Tigo Sepakat Inderapura, Kecamatan Pancung Soal, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel),” terang Anto.

Bahkan akibat aktivitas tersebut, lanjut dia, sepanjang 20 meter aliran Batang Inderapura telah mengalami pergeseran dari jalur sebelumnya.

“Kalau terus dibiarkan berlarut-larut, maka kerugian besar akan dialami oleh masyarakat. Sebab, lahan mereka akan terbang dan hanyut dibawa arus sungai,” sebutnya lagi.

Kepada Wartawan Darwiadi, SH selaku Ketua Komisi II DPRD Pessel membenarkan, bahwa lokasi tambang tersebut jelas sudah merusak lingkungan sekitar, dan berdampak sangat parah kepada lahan masyarakat sekitar.

“Benar, dampaknya sangat jelas mengganggu lahan persawahan dan peladangan milik masyarakat. Diperkirakan sekitar 20 meter sudah banyak tebing yang runtuh dan amblas ke sungai. Kalau kegiatan ini terus berlanjut, maka akan bertambah parah lagi kedepannya,” sebutnya dilokasi.

Dijelaskannya, secara pengurusan administrasi terkait izin tambang diseluruh Kabupaten/Kota memang merupakan urusan Provinsi. Namun, pihaknya tetap akan berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah dan dinas terkait seperti BPMP2T, DLH dan PSDA Kabupaten Pessel, mengingat aktivitas tambang milik CV. Mutia Anugerah yang tidak memikirkan dampak lingkungan.

Baca Juga :  Solok Selatan Kembali Dilirik Lokasi Shooting Trans7

“Persoalan ini akan kita bahas dalam rapat internal di komisi II. Nanti secara teknis biarlah orang ESDM Provinsi yang menentukan aktivitas CV. Mutia Anugerah ilegal atau tidak. Sebab mereka yang lebih mengetahuinya secara pasti dimana titik koordinatnya,” katanya.

Hal senada juga disampaikan oleh Dani Sopian SH, selaku wakil ketua komisi II saat itu. Menurutnya selaku perpanjangan tangan dari masyarakat akan menanggapi setiap keluhan yang terjadi ditengah-tengah masyarakat.

“Nanti terkait izin akan kita bahas pada rapat internal di komisi II. Setelah itu akan kita kordinasikan dengan Pemerintah Daerah dan Dinas terkait selaku mitra kerja kita, yakni Dinas BPMP2T, DLH, dan PSDA. Kalau memang mereka bekerja diluar titik koordinat, dan berdampak buruk pada lingkungan, maka pihak penegak hukum harus turun tangan menutup aktivitas galian C tersebut,” tegas Dani Sopian, yang juga sebagai ketua Fraksi Partai Nasdem ini.

Sebelumya, meskipun sudah pernah dilakukan penyitaan barang bukti oleh tim Polda Sumbar, terkait aktivitas pengerukan material galian C diluar titik koordinat, disepanjang aliran Batang Inderapura, tepatnya di kawasan Nagari Tigo Sepakat, Kecamatan Pancung Soal, kabupaten Pesisir Selatan (Pessel). Namun, kegiatan penambangan oleh CV.Mutia Anugerah, tetap saja kembali terjadi dan berdampak buruk terhadap lahan perkebunan dan pertanian masyarakat sekitar.

Kapolsek Pancung Soal, Iptu.Muhammad Sugindo,SIK kepada wartawan membenarkan, terkait penyelidikan yang dilakukan oleh Timsus Polda Sumbar terkait aktivitas galian C beberapa waktu lalu. Menurutnya saat itu, aktivitas galian C yang dilakukan oleh CV.Mutia Anugerah, sempat terhenti. Namun, selang beberapa hari saja, mereka kembali lagi beroperasi.

“Karena penyelidikan langsung melalui Timsus Polda, maka pihak kita tidak mengetahui lagi bagaimana perkembangan selanjutnya. Saat itu, pihak kita hanya menyediakan tempat untuk melakukan proses di kantor Polsek. Dan sampai saat ini, pihak kita juga belum mendapatkan surat tembusannya,” jelasnya.

Melihat kejanggalan tersebut, akhirnya masyarakat melaporkan kembali tentang aktivitas yang dilakukan oleh CV. Mutia Anugerah yang membuat masyarakat menjadi resah dan geram. Informasi yang diterima sumber Haluan, surat pengaduan tersebut, juga ditembuskankepada Tim Terpadu SK5 Penegakan Hukum Daerah, sekaitan dengan Pengelolaan Usaha Pertambangan Mineral dan Batu Bara yang dilakukan diluar titik koordinat yang telah ditentukan. Pada tanggal 20 April 2017 untuk dapat diproses secara hukum yang berlaku.

Baca Juga :  Kejaksaan Siap Menerima Laporan Penyimpangan Dana Desa

“Nanti jangan salahkan warga bertindak anarkis, sebab kegiatan penambangan tersebut tidak padatitik kordinat yang ditentukan, dan tidak sesuai dengan izin yang mereka kantongi. Kalau terus dibiarkan, maka masyarakat yang akan dirugikan,” ungkap Agusril (48), seorang warga yang lahannya ikut terdampak. Selasa (2/5).

Menurutnya, kegiatan tersebut telah melangar undang-undang nomor 4 tahun 2009 Tetang Sumber Daya Mineral dan Batu Bara, karena operasi penambangan yang dilakukan oleh CV. Mutia Anugerah diluar izin yang sudah diberikan oleh Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (BPMP2TSP) Provinsi Sumbar.

“Saat tim terpadu melakukan cek titik koordinat beberapa waktu lalu, terbukti bahwa kegiatan tambang yang dilakukan oleh CV. Mutia Anugerah tesebut, melebihi 200 meter dari titik koordinat yang sebelumnya, bertempat di Nagari Tigo Sepakat Inderapura, Kecamatan Pancung Soal,” jelasnya.

Sebelumnya, Azril A,ST selaku tim Teknis dari Dinas Pertambangan dan Energi (ESDM) Sumbar, mengatakan bahwa CV. Mutia Anugerah telah menambang diluar izin yang telah dikeluarkan oleh dinas terkait. Hal itu kata dia, sudah disampaikan kepada pihak CV. Mutia Anugerah secara langsung, namun hingga saat ini masih tidak ditanggapi.

“Izin mereka berdasarkan rekomendasi dari pihak Kabupaten. Kita dari Provinsi hanya selaku perpanjangan saja. Pihak kita tidak pernah membolehkan CV. Mutia Anugerah menambang diluar titik koordinat lebih 200 meter, itu jelas menyalahi aturan dan prosedur. Bahkan terkait aktivitas tambang tersebut, Timsus dari Polda Sumbar, sudah meminta seluruh data yang mereka inginkan dan sudah kami berikan,” tegasnya.

Sebelumnya, lemahnya pengawasan dan penegakan hukum terhadap aktivitas penambangan liar di wilayah kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), membuat sejumlah masyarakat merasa kecewa dengan hal itu. Betapa tidak, para pelaku penambangan bahan material (galian c), disepanjang aliran Batang Inderapura, tepatnya di kawasan Nagari Tigo Sepakat, Kecamatan Pancung Soal, berdampak buruk terhadap lahan perkebunan dan pertanian masyarakat sekitar.

Baca Juga :  Polsek Lenggayang, Pessel Sita Puluhan Senjata Mainan

“Mereka semangkin terangan-terangan melakukan aktivitas tersebut, tanpa menghiraukan dampak buruk terhadap lingkungan sekitar. Kami menduga ada sejumlah oknum yang bermain, sehingga meski dinyatakan ilegal, mereka tetap berani melakukan aktivitas penambangan tersebut,” terang masyarakat setempat, Anto (48).

Sebelumnya, sekitar 500 meter lahan milik masyarakat yang berada dipinggiran Batang Inderapura, menjadi terban dan longsor akibat aktivitas tambang milik CV Mutia Anugerah tersebut. Terkait hal itu, dalam waktu dekat, ia berencana akan melaporkan kejadian itu, ke pihak kabupaten untuk segera dilakukan penertiban aktivasi ilegal tersebut.

“Dampaknya sangat jelas merugikan lingkungan. Sebab, sepanjang 20 meter, aliran sungai sudah mengalami pergeseran. Jika tidak segera dihentikan, maka dampaknya akan bertambah parah lagi. Saya mintak pihak penegak hukum segera turun kelapangan dan melakukan penertiban,” ujarnya.

Sementara itu, Junaidi selaku Camat Air Pura, ketika dihubungi Haluan, membenarkan aktivitas yang sudah meresahkan tersebut. Dalam waktu dekat, ia akan melakukan pemanggilan terhadap pemilik izin CV Mutia Anugerah tersebut, untuk menentukan titik koordinat penambang Quary yang pasti.

“Ya, nanti akan kita panggil pemiliknya, supaya jelas dimana letak titik koordinat yang seharusnya mereka ambil,” sebutnya.

Berdasarkan laporan yang diterima pihaknya, sudah banyak lahan masyarakat yang terban ke Sungai akibat aktivitas tersebut. Terkait hal itu, pihaknya akan segera berkoordinasi dengan pihak terkait untuk menyikapi persoalan tersebut agar tidak berlarut-larut.

“Kalau terus dibiarkan, maka kemungkinan besar batang air akan berubah arah. Secara langsung akan berdampak buruk terhadap lahan cetak sawah baru yang ada di Nagari Inderapura Timur,” tutupnya.

Dihubungi terpisah, Gusti Erlina pimpinan CV. Mutia Anugerah diketahui sebagai pemilik Quary di Nagari Tiga Sepakat Inderapura, Kecamatan Pancung Soal, kabupaten Pessel, tidak mengangkat teleponnya. [Rega Desfinal]

Bagikan:
Tags: ,
Solok Selatan dalam Berita

No Responses


close