Divonis 20 Tahun, Terpidana Kasus Pembunuhan Nekad Kabur Dari Penjara

Divonis 20 Tahun, Terpidana Kasus Pembunuhan Nekad Kabur Dari Penjara
Mardiansyah Zaluhu saat melakukan rekonstruksi terhadap aksinya yang membunuh majikannya pada tahun lalu di toko bangunan Semarang Jaya, di Jalan Pemuda Kecamatan Padang Barat, Kota Padang, Sumatera Barat. Rekonstruksi dilakukan pada 5 Februari 2017 sekitar pukul 10.00 WIB. Reka ulang adegan tersebut dikawal ketat oleh aparat kepolisian. (Dokumentasi)
Bagikan:

PADANG, RedaksiSumbar.com – Terpidana kasus pembunhan terhadap majikan yang divonis 20 tahun nekad kabur dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Muaro Padang, Sumbar.

Peristiwa tersebut terjadi pada Minggu (12/11/2017) siang pukul 11.15 WIB. Diduga, terpidana yang bernama Mardiansyah Zalukhu melarikan diri dengan melompati pagar pembatas penjara disaat narapidana. Modus yang digunakannya adalah dengan mengambil jemuran.

“Dengan modus mengambil jemuran, terpidana ini nekad kabur dengan berjalan melewati perpustkaan yang ada di penjara. Setelah itu, ia langsung melompati pagar dan sampai di luar penjara dengan mulusnya,” ucap Kalapas Kelas II A Padang, Sri Yuwono, Senin (13/11/2017).

Hingga saat ini, Sri Yuwono menyebut bahwa pihaknya terus memburu pelaku yang berhasil kabur dari balik jeruji besi.

“Kami berharap kepada masyarakat yang mengetahui keberadaan pelaku agar segera menginformasikan kejadian tersebut kepada petugas kepolisian atau Lapas Kelas II Padang,” ujarnya.

Seperti diketahui, Mardiansyah Zalukhu merupakan terpidana pembunuhan anak pengusaha Toko Bangunan Semarang Jaya, Rita Mulyap (26) pada 19 Januari 2016 silam. Dia melakukan tindakan keji tersebut lantaran tidak tahan menahan ucapan korban yang ia nilai melukai hati dan perasaannya.

Berdasarkan pengakuannya, awalnya ia dimintai oleh Rita Mulyap (26), bosnya di tempat ia bekerja tersebut untuk memasukkan mobil ke dalam ruko. Namun ketika hendak memasukkan mobil ada motor yang terletak di dalam ruko tersebut.

Korban lalu meminta agar Mardiansyah juga menggeser motornya tersebut, tapi tak dilaksanakan tersangka. Ia beralasan sedang lelah karena bekerja seharian.

“Saya memang tidak mengindahkan permintaan dia (Rita Mulyap, red) ketika dia meminta tolong kepada saya. Namun, setelah itu terlontar dari mulutnya dengan kata-kata, ‘kamu ini memang kurang ajar yah’, begitu katanya. Kejadian ini terjadi 19 Januari 2016, setelah itu saya langsung pergi untuk pulang. Saya masih sabar saat itu,” ungkapnya.

Lanjutnya, ketika keesokan harinya di hari yang tragis tersebut, Mardiansyah mengaku masuk kembali kerja seperti biasanya. Ketika ia hendak meminta uang makannya, Rita malah tidak memberikannya.

“Saya tanya alasannya apa, ia tidak bisa menjelaskan dengan jelas. Selain itu, ia masih mengatakan saya dengan sebutan kurang ajar. Sabar saya sudah habis pada saat itu. Akhirnya saya ambil sebilah pisau dalam tas yang selalu saya simpan untuk jaga-jaga. Setelah itu, saya langsung menusuk lengan dan lehernya,” tuturnya.

Setelah menusuk Rita, kata Zaluhu lagi, ia sempat ingin dihajar oleh suami korban. Kejadian ini tak sempat berlanjut setelah dilerai oleh seorang warga yang tidak kenalnya.

“Setelah itu saya menyerah­kan diri sendiri ke Pos Polisi yang tak jauh dari tempat saya bekerja dengan tangan masih berlumuran darah,” lanjutnya.

Ia mengakui, perbuatannya tersebut salah. Tapi dia tidak tahan dengan ucapan yang dilon­tarkan oleh majikannya tersebut dan ditambah dengan uang ma­kan yang tak kunjung dibayarkan.

“Sebenarnya bukan karena masalah gaji, namun lebih kepada uang makan sebesar Rp. 60 ribu yang tak dibayarkan oleh korban bang,” ungkapnya. [QQR]

Bagikan:
Tags: , , , ,
Loading...

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan