Dorong Peremajaan Kelapa Sawit, 50 Petani Sijunjung Ditraining | Redaksi Sumbar

Dorong Peremajaan Kelapa Sawit, 50 Petani Sijunjung Ditraining

Dorong Peremajaan Kelapa Sawit, 50 Petani Sijunjung Ditraining
Petani perkebunan kelapa sawit rakyat asal Kabupaten Sijunjung melakukan studi banding ke PT Mutiara Agam dan KUD Tiku V Jorong, Kecamatan Tanjungmutiara, Kabupaten Agam, Minggu (12/3). // Foto istimewa
Dibaca : 125 Kali
Bagikan:




AGAM, RedaksiSumbar.com – Sedikitnya 50.000 hektare perkebunan kelapa sawit yang dimiliki masyarakat Sumbar butuh peremajaan. Rata-rata kepemilikan 2 hektare lahan kelapa sawit tiap kepala keluarga (KK) belum terakomodir secara mandiri. Secara umum, performa kelapa sawit belum menggembirakan, baik aspek produksi, legalitas, kelembagaan maupun permodalan.

“Melalui pelatihan khusus, petani kelapa sawit yang tergolong perkebunan rakyat diharapkan dapat mempersiapkan peremajaan kebun kelapa sawit secara optimal, mengelola pembibitan berkelanjutan dan mengetahui faktor penentu keberhasilan secara mandiri,” ujar pengelola program LPP Kampus Medan, Arief Setiawan Sutanto, Senin (13/3).

Lembaga Pendidikan Perkebunan (LPP) Kampus Medan bekerja sama dengan Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Sumbar yang difasilitasi oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) menggelar pelatihan peremajaan kebun kelapa sawit bagi petani swadaya. Selama lima hari, Kamis (8/3/2017) hingga Senin (13/3/2017) sebanyak 50 petani rakyat asal Kabupaten Sijunjung mendapat pelatihan terpadu dari para trainer. Mereka diakomodir di sebuah hotel dan berkesempatan langsung menimba pengalaman dari PT Mutiara Agam dan KUD Tiku V Jorong, Kabupaten Agam.

Umumnya, lanjut Arief, para petani rakyat secara kompetensi masih banyak kekurangan, kesempatan untuk belajar mengembangkan diri sangat terbatas sekali. Melalui pelatihan yang terprogram dan berkelanjutan diharapkan ada ilmu baru yang didapat oleh para petani.

“Pelatihan yang diberikan antara lain teknis budidaya, manajemen replanting dan manajemen pembiayaan. Output-nya, para petani mampu memilih sistem yang menguntungkan dan terhindar dari bibit sapuan yang menyengsarakan. Sebab, jika petani salah mengambil sikap di awal, maka dampak kerugian akan dialami dalam waktu yang lama,” bebernya.

Ketua Apkasindo Sumbar, Irman menyebut sejak 2016, pihaknya sudah merangkul petani kelapa sawit rakyat dari berbagai daerah mulai dari Kabupaten Agam, Pasaman Barat Dharmasraya, Pesisir Selatan, dan kali ini Kabupaten Sijunjung. Tujuannya, petani rakyat ini dapat mengelola kebun kelapa sawit mereka secara mandiri, tidak lagi bersifat satu satu atap dan harus mengikut kepada perusahaan inti.

Baca Juga :  BPSK Sulit Beroperasi Akibat Pengalihan Wewenang

Irman meyakini, jika petani rakyat diberi kesempatan mengelola kebun kelapa sawit secara mandiri, maka kesejahteraan mereka akan meningkat.

“Jika menggantungkan pengelolaan kepada perusahaan inti, biayanya sangat tinggi, berkisar antara Rp 70-80 juta perhektare. Kalau dikelola secara mandiri, maka petani rakyat bisa menghemat biaya 40 hingga 50 persen. Hasil panen dan keuntungan juga dapat mereka nikmati sendiri, mereka tidak lagi menjadi penonton di lahan sendiri,” papar Irman.

Dijelaskan Irman, sejatinya program pelatihan bagi para petani rakyat dapat dilaksanakan dengan frekuensi dan intensitas yang lebih banyak. “Ini adalah hak para petani kelapa sawit. BPDPKS selaku penyuport dana, memungut dana dari ekspor kelapa sawit dan dikelola BLU Kemenkeu RI. Artinya, pelatihan peningkatan kemampuan petani berasal dari kebun kelapa sawit untuk kemajuan kelapa sawit di Indonesia” terangnya.

Tidak hanya di Sumbar, sambung Irman, para petani swadaya belum terlindungi dalam hal kelayakan harga dan memperoleh benih unggul.

“Ke depan diharapkan petani rakyat bisa naik kelas menjadi mitra perusahaan inti, bukan sekedar pemasok pasar. Karena, mereka sebenarnya adalah pejuang devisa negara. Bayangkan kebun rakyat yang berkisar 3 juta hektare se-Indonesia tidak pernah terdata. Mereka membutuhkan pendampingan dari seluruh pihak. Mereka sangat perlu pelatihan, karena keinginan untuk bisa mandiri masih tinggi,” pungkasnya. [Loni Hendri]

Bagikan:
Tags: ,



Solok Selatan dalam Berita

No Responses


close