Dua Pelaku Curanmor Dibekuk Polsek Koto Tangah, 1 Orang, Anak Dibawah Umur

Dua Pelaku Curanmor Dibekuk Polsek Koto Tangah, 1 Orang, Anak Dibawah Umur
Bagikan:

PADANG, RedaksiSumbar.com – Sedikitnya dua orang pelaku pencurian kendaraan bermotor (curanmor) diamankan oleh Polsek Koto Tangah pada Kamis (23/2/2017) siang sekitar pukul 12.30 WIB.

Pelaku yang diketahui bernama M. Aldi Saputra (16), dan Yosep Josbela Situmorang (18) warga Pasir Parupuk Tabing RT 0, RW 11, Kelurahan Parupuk Tabing, Kecamatan Koto Tangah ini diamankan oleh Tim Opsnal Polsek Koto Tangah yang dipimpin oleh Kanit Reskrim, Iptu. Junaidi di sebuah Pos Pemuda tidak jauh dari kediaman kedua orang yang diketahui berteman tersebut.

Informasi yang berhasil dihimpun, keduanya ditangkap setelah diduga melakukan tindak pidana pencurian sepeda motor (curanmor) jenis Honda Scoopy di Simpang Pagai, Kelurahan Koto Panjang Ikua Koto (KPIK) Kecamatan Koto Tangah pada 16 Februari 2017 silam.

“Berdasarkan LP/107/K/II/2017/Polsek Koto Tangah tanggal 16 Februari 2017, pelaku melakukan aksi curanmor, pelaku yang diketahui warga Parupuk Tabing ini masih berada di Kota Padang dan sekitaran kediamannya. Selama satu minggu kita melakukan penyelidikan terhadap keberadaannya, beruntung sepeda motor belum dijual oleh keduanya,” ucap Kapolsek Koto Tangah, Kompol Jon Hendri.

Terkait dengan perkembangan adanya tersangka lain, ia mengatakan masih akan terus melakukan pengembangan mengingat kawasan Koto Tangah sendiri, sebut Jon, merupakan kawasan yang rawan tindak pidana pencurian. Mengenai penanganan kasus salah satu pelaku yang masih berstatus dibawah umur, dirinya mengatakan proses hukum tetap berjalan sebagaimana mestinya.

“Yang membedakan, dirinya (Aldi-Red) didampingi oleh Lembaga Perlindungan Anak selama menjalani proses penyidikan oleh petugas polisi sebelum berkas kasusnya dilimpahkan ke kejaksaan,” ujarnya.

Seperti dilansir dari hukumonline.com, undang-undang terbaru yang mengatur tentang anak yang berhadapan dengan hukum adalah Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (UU SPPA).

UU SPPA ini merupakan pengganti dari Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak (UU Pengadilan Anak) yang bertujuan agar dapat terwujud peradilan yang benar-benar menjamin perlindungan kepentingan terbaik terhadap anak yang berhadapan dengan hukum.

UU Pengadilan Anak dinilai sudah tidak sesuai lagi dengan kebutuhan hukum dalam masyarakat dan belum secara rinci memberikan perlindungan khusus terhadap anak yang berurusan dengan hukum.

Adapun substansi yang diatur dalam UU SPPA antara lain mengenai penempatan anak yang menjalani proses peradilan dapat ditempatkan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA).

Sosiolog, Erian Joni saat dihubungi mengatakan bahwa tindakan remaja yang melakukan aksi pengeroyokan dan begal di kawasan Pasar Baru bukanlah hal baru terjadi di Indonesia.

Dosen UNP ini menyebut, aksi para remaja tersebut sudah masuk kategori multi variabel. Artinya, kelompok-kelompok yang terlalu dibebaskan oleh orang tua, tidak ada kontrol dan pengawasan rutin dan ketat yang dilakukan. “Kurangnya perhatian dari orang tua membuat para remaja membuat mereka leluasa melakukan hal yang mereka suka tanpa berfikir apa dampak dari perbuatan mereka tersebut,” ucap Erian.

Ia menambahkan, lingkungan juga menjadi salah satu faktor penyimpangan perilaku para remaja tersebut. “Ada kesamaan ide, hobi, waktu dan bahkan juga nasib yang membuat mereka melakukan hal tersebut. Hal ini menarik perhatian saya karena ada indikasi kejahatan terorganisir, dimana kejahatan yang dilakukan oleh remaja namun terkesan profesional,” ungkapnya.

Sebutnya lagi, meningkatnya tuntutan dan kebutuhan remaja pada saat sekarang ini, seperti gawai, rokok, dan pergaulan yang terkesan hedonis dan konsumtif membuat para remaja nekad melakukan aksi tersebut.

“Para remaja pada saat sekarang sudah banyak terlibat dalam tindak pidana, seperti halnya judi baik itu langsung ataupun online, narkoba, dan minuman keras (miras) seringkali menjadi pangkal permasalahan tindakan kriminal tersebut. Karena dengan cara itu, mereka dengan gampang mendapatkan duit, sementara jika meminta kepada orang tua belum tentu dapat. Mereka juga mencari lawan yang sepadan atau seumuran dengan dirinya,” tambahnya. [adl]

Bagikan:
Tags: ,
Loading...

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan