Kepala BNPT : Petugas Masih Selidiki Latar Belakang MCA

Kepala BNPT : Petugas Masih Selidiki Latar Belakang MCA
Ratusan mahasiswa mendengarkan kuliah umum dan peluncuran buku dari Buya Syafii Maarif dan Kepala BNPT, Komjen Suhardi Alius. (Aceng)
Bagikan:




PADANG, RedaksiSumbar.com – Latar belakang Kelompok masyarakat yang tergabung dalam berbagai media sosial, Muslim Cyber Army (MCA) sampai saat ini masih diselidiki oleh petugas kepolisian dan instansi terkait.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Suhardi Alius usai kegiatan bedah buku di Auditorium Universitas Negeri Padang (UNP), Kamis, 1 Maret 2018.

“Mabes Polri masih melakukan penyidikan terhadap jaringan yang diketahui sebagai pembuat dan penyebar berita bohong dan fitnah ini. Belum bisa dipastikan, ada indikasi kelompok MCA tersebut terbukti berhubungan dengan kelompok-kelompok radikalisme,” sebut Suhardi.

Suhardi menakutkan masyarakat percaya begitu saja dengan informasi dan berita bohong terkait paham-paham radikalisme, terutama yang tidak memiliki ideologi kuat dan gampang diprovokasi.

“Namun BNPT, saat ini masih memonitor pergerakan-pergerakan kelompok yang dapat membahayakan bagi negara,” tuturnya.

Dinukil dari laman Kompas.com, Kelompok Muslim Cyber Army memiliki armada yang cukup besar di media sosial.

Menurut Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen (Pol) Fadil Imran, anggota kelompok ini mencapai ratusan ribu yang tergabung dalam MCA United. Kelompok ini terdiri dari beberapa grup kecil lainnya.

Di media sosial, kata Fadil, cukup banyak juga akun yang menggunakan nama MCA. MCA united merupakan grup terbuka sehingga siapa pun bisa bergabung ke dalamnya.

“Grup ini sebagai wadah untuk menampung unggahan dari anggota MCA yang upload berita, video, gambar, untuk disebarluaskan,” kata Fadil.

Grup besar ini memiliki 20 admin dan moderator. Salah satu anggotanya bernama Tara Arsih sudah diciduk polisi.

Grup berikutnya adalah Sniper Team. Fadil mengatakan, kelompok ini sifatnya tertutup dengan jumlah anggota terbatas, hanya 177 orang. Grup yang dibuat di Facebook ini merupakan wadah untuk melaporkan akun-akun yang dianggap sebagai lawan untuk diblokir.

Selain itu, Sniper Team juga menyebarkan virus agar kelompok lawan tidak bisa mengoperasikan gawainya.

“Salah satu adminnya adalah Ramdani Saputra yang sudah tertangkap,” kata Fadil.
Selain itu, ada juga grup yang lebih tertutup dan sedikit jumlah anggotanya, yakni Cyber Muslim Defeat Hoax.

Grup ini berisi 145 anggota. Tugasnya yakni melakukan penggalangan opini dengan membagikan berita secara masif dan serentak. Kelompok ini juga mengatur pergerakan isu apa yang akan diviralkan di media sosial secara periodik. Polisi saat ini masih mengejar admin grup tersebut.

Terakhir, ada kelompok inti yang dinamakan The Family MCA. Grup ini sifatnya sangat rahasia. Anggotanya pun sedikit, hanya 9 orang.

Polisi telah menciduk lima orang di antaranya, yakni Ramdani, Muhammad Luth, Rizki Surya Dharma, Yuspiadin, dan Roni Sutrisno.

“Grup ini berisi orang-orang yang memiliki pengaruh dalam grup-grup lainnya, untuk mengatur dan merencanakan sebuah berita agar dapat diviralkan secara terstruktur,” kata Fadil.

Fadil mengatakan, tim ini merupakan orang di balik layar atas konten-konten yang menyebar di media sosial MCA. Mereka hanya melempar konten ke grup WhatsApp, kemudian MCA United yang akan memviralkan melalui Facebook, Instagram, dan Twitter.

“Jadi mereka tidak pernah keluar mem-posting. Mereka yang setting, atur timeline,” kata Fadil.

Fadil mengatakan, kelompok MCA memang tak memiliki struktur pengurus seperti Saracen. Namun, mereka bekerja secara sistematis. [IIK]




Bagikan:
Topik: , , , , ,
Loading...