KKI Warsi dan Warga Jolok Sungai Siriah Kembangkan UMKM Madu Sialang dan Gelang Rasam

KKI Warsi dan Warga Jolok Sungai Siriah Kembangkan UMKM Madu Sialang dan Gelang Rasam
Bagikan:




SOLOK SELATAN, RedaksiSumbar.com – Untuk mengembangkan sumber daya berbasis alam dan manusia di Kabupaten Solok Selatan, khususnya di Kenagarian Pulakek Koto Baru, Jolok Sungai Siriah, Kecamatan Sungai Pagu, Kabupaten Solok Selatan, Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi Sumatera Barat mengembangkan konsep Pengelolaan Sumber Daya Alam Berbasis Masyarakat (PSDABM) di 12 Kabupaten dan Kota di Sumatera Barat.

Program yang dikenal dengan nama “Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera” ini sendiri telah dikembangkan di Kabupaten Solok Selatan, Kabupaten Solok, Kabupaten Sijunjung, Kabupaten Dharmasraya, Kabupaten Tanah Datar, Kabupaten Limapuluh Kota, Kabupaten Agam, Kabupaten Pasaman, Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Pesisir Selatan, Kota Sawahlunto, dan Kota Solok.

“Pengelolaan yang dilakukan oleh masyarakat berbasis kearifan lokal terbukti mampu memperbaiki kualitas lingkungan dan meningkatkan sumber ekonomi. Inilah kenapa Warsi memilih pendekatan berbasis masyarakat,” ucap Koordinator KKI Warsi Sumatera Barat, Riche Rahma Dewita beberapa waktu yang lalu di Solok Selatan.

Ada empat poin yang dilakukan KKI Warsi Sumbar dalam pola pendekatan dan pembangunan ekonomi kerakyatan atau kenagarian, diantaranya KKI Warsi mendorong legalitas semua SDA (Sumber Daya Alam) agar bisa diperoleh masyarakat, yang memungkinkan masyarakat bisa mengelola di dalam dan di luar kawasan hutan.

Warsi juga gencar dalam pembentukan kelembagaan yang kuat agar pengelolaan berjalan optimal, seperti pembentukan Lembaga Pengelola Hutan Nagari (LPHN). Selanjutnya, peningkatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang banyak ditemukan di hutan yang bisa dikembangkan untuk mendukung ekonomi masyarakat.

Terakhir, KKI Warsi mendorong masyarakat punya kemampuan menyuarakan hak kepada pemerintah, agar segala perencanaan yang disusun masyarakat bisa dikomunikasikan ke dalam rencana pembangunan daerah.

Dipilihnya Solok Selatan sebagai salah satu daerah pengembangan dan pembangunan ekonomi berbasis masyarakat sendiri bukan tanpa alasan, nagari yang dikenal dengan kekayaan alam, tambang dan 1000 rumah gadangnya tersebut menyimpan semua potensi dan kriteria yang dibutuhkan oleh KKI Warsi.

Salah satunya adalah potensi wisata yang terpendam dan terletak di dalam hutan yang masih lebat di Kabupaten yang baru ‘melepaskan’ diri dari induknya, Kabupaten Solok tersebut, 13 tahun silam, serta pemandian air panas yang juga menjadi primadona bagi para wisatawan.

Dari hasil kerajinan dan olahan pangan, Kabupaten ini juga memiliki kelompok perempuan yang dinamakan dengan Kelompok Sungai Siriah Sarumpun ini diberikan semacam pelatihan oleh KKI Warsi dalam membuat hasil karya sebuah gelang dan cincin dari kulit kayu Rasam.

“Pelajaran yang berharga yang kami dapatkan disini adalah, kami bisa memanfaatkan tanaman yang dianggap sebagai hama bagi tumbuhan lainnya menjadi sesuatu yang menghasilkan uang dan berpotensi meningkatkan taraf kehidupan,” sebut Yenti Murni (35) sembari mengerjakan kerajinan tangan tersebut.

Jumlah anggota kelompok yang dibentuk sejak September 2016 dan direaliasasikan sejak Desember 2016 ini sendiri, sebut Yenti sudah mencapai 20 orang. Ia juga berujar bahwa Rasam tidak akan pernah habis dari hutan yang ada di kawasan Jolok Sungai Siriah.

“Karena ini juga bagian dari Lembaga Pengelolaan Hutan Nagari, maka saya rasa kegiatan ini bisa terus berlanjut dan berkembang dengan baik selama ada dukungan dari berbagai pihak. Sekarang yang kami pikirkan adalah bagaimana dalam persoalan pemasaran kerajinan ini mengingat jalan yang curam dan terjal bagi masyarakat akan menyulitkan mereka ketika berkunjung kesini,” tambahnya.

Tidak hanya kerajinan gelang dan cincin rasam, di kawasan tersebut juga bisa ditemukan madu alami yang langsung diambil dari sarang lebah. Adalah, Rudi Syafrial (40) yang telah tiga tahun melakoni pekerjaan sebagai pengambil madu di sarang lebah yang banyak terdapat di berbagai pohon yang ada di kenagarian tersebut.

Pria tiga anak tersebut mengatakan bahwa madu yang diambilnya dinamakan dengan Madu Sialang. Pemilihan nama Sialang sendiri, pasalnya menurut pria berkumis ini burung Elang juga suka dengan madu tersebut.

“Jadi sialang tersebut singkatan dari sisa elang. Elang juga suka madu yang bisa dicari dari sebuah kayu besar, kayu aro dan kayu kajai. Ada sekitar 300 sarang madu dari pohon yang tersebar di hutan ini dan hanya banyak pada musim bunga,” ucapnya.

Dijelaskan oleh Rudi, dari satu sarang sendiri, dirinya bisa menghasilkan enam sampai 10 botol sirup madu alami. “Satu botol ini biasanya saya jual dengan harga Rp150 ribu. Bermacam khasiatnya bisa kita rasakan ketika kita langsung mengkonsumsi madu ini,” tukasnya. [adl]

Bagikan:
Tags: ,
Loading...

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan