Mantan Bendahara Kontingen Bukittinggi Ditahan

Mantan Bendahara Kontingen Bukittinggi Ditahan
Mantan bendahara kontingen Porprov 2016 asal Bukittinggi, Wahyu Eko Wibowo (baju merah muda memegang pena) didampingi pengacaranya (kanan berbaju jingga) kanan) menandatangani surat penahanan di hadapan Jaksa di kantor Kejari Bukittinggi. (Rudi Arnel)
Bagikan:




BUKITTINGGI, RedaksiSumbar.com – Mantan bendahara kontingen Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2016 Bukittinggi Wahyu Eko Wibowo, 48, ditahan oleh pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) dalam kasus penyalahgunaan dana Porprov yang digelar di Kota Padang dua tahun silam.

Warga komplek Masjid Nurul Huda Kecamatan Mandiangin Koto Selayan (MKS), Kota Bukittinggi, Sumatera Barat tersebut ditahan di rumah tahanan (rutan) kelas II B Anak Air selama 20 hari ke depan, terhitung sejak Senin, 23 April 2018 kemarin. Sebelum ditahan, pelaku telah menjalani pemeriksaan kesehatan di Rumah Sakit Stroke Nasional (RSSN) Bukittinggi.

Wahyu menjadi pesakitan setelah tidak bisa mempertanggung jawabkan keuangan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Bukittinggi yang berasal dari dana hibah pemerintah sebesar Rp3,15 miliar. Akibat perbuatannya, negara dirugikan sebesar Rp129.819.800.

“Modus yang dilakukan tersangka adalah dengan membuat kuitansi fiktif dan penggelembungan pengeluaran untuk beberapa item seperti Uang Lauk Pauk (ULP) cabang olahraga (cabor), ULP panitia, uang saku panitia, pembelian sepatu, jasa transportasi serta pengadaan Bahan Bakar Kendaraan (BBK) kontingen. Setelah dilakukan pemeriksaan, Wahyu mengembalikan uang negara sebanyak Rp26 juta,” sebut Kepala Kejari Bukittinggi Zulhadi Savitri Noor, Selasa, 24 Maret 2018.

Lanjut Kajari, dari dana sebesar Rp3,15 miliar, pelaku hanya bisa mempertanggung jawabkan uang sejumlah Rp2.982.532.661, untuk sisanya dikembalikan ke kas daerah sebesar Rp167.467.339 dan masih ditemukan kekurangan yang tidak bisa dikembalikan.

Selain menahan, pihak Kejari Bukittinggi juga menyita sejumlah barang bukti (bb) berupa dokumen dan bukti pengembalian uang sebesar Rp26 juta dan memeriksa sebanyak 90 orang saksi.

“Uang sebanyak Rp26 juta yang dikembalikan tersangka sudah tidak dihitung lagi sebagai kerugian negara namun tetap masih ada kekurangan sejumlah Rp129.819.800, untuk menutupi kekurangan tersebut, kami menyita aset yang dimilikinya baik berupa rumah atau kendaraan pribadi miliknya,” tutur Zulhadi yang didampingi Kasi Intel Alexander Zaldi.

Akibat perbuatannya, tersangka dijerat dengan pasal berlapis yaitu pasal 2 ayat 1 junto pasal 18 ayat 1 huruf b ayat 2 dan ayat 3 Undang-Undang Dasar (UUD) nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak korupsi yang telah diubah dan ditambah dengan UU nomor 20 tahun 2001 tentang perubahan UU nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi junto pasal 55 ayat 1 ke 1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dengan ancaman maksimal 20 tahun dan minimal empat tahun kurungan penjara.

Wahyu juga dijerat dengan pasal 3 junto pasal 18 ayat 1 huruf b ayat 2 dan ayat 3 UU nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi yang telah diubah dengan UU nomor 20 tahun 2001 tentang perubahan atas UU nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak korupsi juntoo pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun dan minimal satu tahun penjara.

Selain itu, Kejari juga menjerat pelaku dengan pasal 9 UU nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak korupsi junto pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal lima tahun dan minimal satu tahun kurungan penjara. [RUD]




Bagikan:
Topik: , , ,
Loading...