Mencari Manisnya Kehidupan, Dalam Manisnya Madu Sialang (Kisah Pencari Madu di Solok Selatan) | Redaksi Sumbar

Mencari Manisnya Kehidupan, Dalam Manisnya Madu Sialang (Kisah Pencari Madu di Solok Selatan)

Mencari Manisnya Kehidupan, Dalam Manisnya Madu Sialang (Kisah Pencari Madu di Solok Selatan) Dibaca : 196 Kali
Bagikan:




SOLOK SELATAN, RedaksiSumbar.com – Lebih kurang 150 kilometer dari Kota Padang, terdapat sebuah Kabupaten yang baru berdiri sejak 13 tahun silam, Kabupaten Solok Selatan. Kabupaten yang sejatinya terbilang sudah memasuki usia remaja untuk ukuran manusia ini seakan terus berbenah untuk bisa lepas dari bayang-bayang sang kakak, Kabupaten Solok agar bisa hidup mandiri dengan segala sumber daya alam dan manusia yang mereka miliki.

Masyarakat Solok Selatan yang terkenal ramah juga memiliki semangat juang untuk bertahan hidup yang bisa dibilang sangat terbilang tinggi. Apa saja mereka lakukan untuk dapat melalui hari demi hari, menyambung nyawa dari pagi ke siang, siang ke malam. Begitupun seterusnya.

Ada yang ke ladang mencari kayu bakar, ada yang bercocok tanam di sawah, ada juga yang beternak hewan, sapi misalnya. Tapi ada satu orang yang nekad berjuang untuk hidup dengan mempertaruhkan nyawanya dengan hewan yang terkenal akan sifat soliditasnya, lebah.

Adalah Dody Syafrial (40). Seorang pria dengan tiga anak yang berasal dari Kenagarian Pulakek Koto Baru, Jolok Sungai Siriah, Kecamatan Sungai Pagu, Kabupaten Solok Selatan ini memahami betul apa potensi di nagari tempat ia berdomisili yang dapat digarap oleh dirinya demi merubah nasib ke arah yang lebih baik dan dapat menyekolahkan anaknya agar kelak tidak menjadi seperti dirinya yang sudah memasuki usia dengan kepala empat, namun harus bertarung melawan nasib dengan menjadi seorang petani dan pencari madu.

Dalam mencari madu, Dody harus berjuang dari rumahnya ke wilayah hutan nagari di kawasan Sungai Siriah yang berjarak lebih kurang dua kilometer dengan mengendarai sepeda motor yang sudah dimodifikasi untuk melewati jalanan yang curam dan terjal di kawasan tersebut. Maklum, Solok Selatan nagari nan sedang getol membangun infrastruktur, termasuk jalan.

Baca Juga :  Pencarian Bocah Hilang Masuk Jurang di Solsel Terus Dilakukan

Perjuangan Dody untuk sampai ke tempat mencari madu langsung dari sarang lebah tidak berhenti sampai disitu. Ia terlebih dahulu harus membakar kotak telur untuk mengusir lebah sementara waktu dan memanjat batang kajai, begitu pohon tersebut disebut masyarakat setempat, karena di batang kajai banyak terdapat sarang lebah yang menghasilkan madu.

Setelah membakar kotak telur, dirinya harus berjuang menaiki pohon yang ia sebut tinginya empat kali dari tiang listrik dengan peralatan seadanya, seperti tali jemuran dan pasak bumi sebagai pijakan untuk sampai ke atas pohon. Nyawa taruhannya.

Bukan tidak jarang dirinya terkena sengatan hewan penghasil madu tersebut, dirinya bahkan pernah diserang secara bertubi-tubi oleh lebah ketika mencari madu dan ketika itu kondisi cuaca tengah memburuk. Dengan madu yang ia cari pulalah dirinya mengobati luka di sekujur tubuhnya tersebut. Sembuh katanya.

Untuk mengantisipasi dirinya terkena sengatan lebah, dipakailah perlengkapan ala robot yang menutupi semua anggota badannya dan pengaman kepala agar tidak diserang pula dirinya oleh lebah. Tidak setiap hari dirinya bisa mendapatkan madu, hanya di musim bunga saja. Kali ini saja, sudah tiga bulan dirinya tidak mendapatkan madu.

Pekerjaan yang telah digelutinya selama tiga tahun belakangan membuat dirinya masih menyimpan madu alami tersebut dan masih bisa dikonsumsi. Rasa manis bercampur asam sangatlah terasa dari madu yang diambil langsung dari sarang lebah tersebut.

Dalam sehari, madu yang dinamakan oleh Dody dengan sebutan madu sialang ini bisa mendapatkan hingga satu galon madu dari 300 batang pohon yang memiliki sarang lebah tersebut. Ada alasan tertentu, kenapa masyarakat disana memberikan nama madu ini dengan sebutan Sialang.

“Elang juga suka madu, bukan hanya lebah,” ucapnya sembari menghembuskan sebatang rokok dan menunjukkan madunya kepada RedaksiSumbar.com.

Baca Juga :  Puluhan Ribu Warga Solok Selatan Belum Miliki E-KTP

Disebutkan Dody, dari satu sarang bisa menghasilkan enam sampai 10 botol sirup madu. Dari satu botol, dirinya menjual dengan harga yang bervariasi, tergantung ukuran botolnya. “Paling murah Rp60 ribu untuk ukuran botol keju dan botol sirup saya jual dengan harga Rp150 ribu,” sebutnya.

Saat ini, alat yang masih sangat tradisional dan akses jalan yang masih sangat buruk membuat dirinya kewalahan dalam pemasaran madu tersebut. Beruntung, Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi sangat peduli dengan terus mendukung dan menggiatkan usaha kenagarian yang dilakukan oleh warga dalam hal pemasaran.

‘Saat ini, satu saja permintaan saya. Perbaiki saja jalan, saya yakin, madu ini akan laku keras terjual tentu dengan sejumlah persyaratan dan izin dari otoritas terkait terlebih dahulu yang saya dapatkan,” pungkasnya. (Muhammad Aidil)

Bagikan:
Tags: ,



Solok Selatan dalam Berita

No Responses


close