Mengenang 13 Tahun Longsor Jembed

Mengenang 13 Tahun Longsor Jembed
Masyarakat khusyuk mengikuti kegiatan tausiyah dan zikir bersama memperingati 13 tahun longsor dan juga doa bersama terhadap peristiwa gempa bumi di NTB. (Istimewa)
Bagikan:




PADANG – Masyarakat di kawasan Gaung, Teluk Nibung dan Sungai Beremas (Gates) mungkin tidak akan melupakan peristiwa longsor yang terjadi pada 1 September 2005 silam. Hari ini, tepat 13 tahun peristiwa tersebut berlalu. Bagaimana ceritanya? Berikut ulasannya.

Pada dini hari, disaat semua orang tengah terlelap dalam derasnya hujan, masyarakat di kawasan Gates, Kecamatan Lubuk Begalung, Kota Padang, Sumatera Barat dikagetkan dengan bencana longsor yang menghantam puluhan rumah yang berada di sekitarnya. Akibat peristiwa tersebut, 26 orang dinyatakan tewas tertimbun longsor.

Pasca kejadian, pencarian dilakukan. Puluhan petugas pencarian, masyarakat setempat dan sejumlah alat berat dikerahkan ke lokasi kejadian untuk menemukan korban dari puing-puing reruntuhan yang tertimbun di dalam lumpur. Wali Kota Padang saat itu, Fauzi Bahar bahkan diketahui datang ke lokasi kejadian dengan hanya mengenakan baju kaos, celana pendek dan topi pada pagi harinya.

Di sela-sela pencarian, tim pencarian berhasil menemukan satu bocah perempuan yang kala itu masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) bernama Sherly. Ya, Sherly selamat dari peristiwa nahas yang juga merenggut nyawa sejumlah anggota keluarga. Sherly linglung.

Bocah kecil nan sudah dewasa tersebut bahkan sempat mengalami trauma yang cukup lama dan langsung dilarikan ke rumah sakit menggunakan ambulans yang sudah siaga tak jauh dari lokasi kejadian.

Sebagai saksi kunci yang mengetahui peristiwa tersebut, Sherly sejatinya tidak akan pernah melupakan peristiwa pilu tersebut. Adalah Joni, salah seorang warga setempat yang mengetahui betul apa yang dirasakan oleh perempuan yang diketahui tercatat sebagai salah satu mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di Kota Padang ini.

“Dia sempat susah diajak bicara ketika diminta menceritakan peristiwa yang dialaminya kepada wartawan buletin Hidayah waktu itu yang langsung datang ke Kota Padang untuk meliput kejadian tersebut. Namun pada akhirnya Sherly bisa berkomunikasi dengan baik,” ungkap Joni pada Sabtu, 1 September 2018 saat warga menggelar pengajian dan tausiyah mengenang 13 tahun peristiwa tersebut.

Kegiatan yang diprakarsai oleh warga setempat dan Sanggar Seni Anak Gaung (SSAG) ini dilaksanakan untuk pertama kalinya setelah 13 tahun peristiwa longsor melanda kawasan tersebut.

 

Ketua Pelaksana tausiyah dan doa bersama longsor Jembed, Aipda Wen Sayuti memberikan kata sambutan kepada para hadirin. (Istimewa)

Ketua Pelaksana Aipda Wen Sayuti mengatakan bahwa tausiyah dan pengajian tersebut digelar sebagai momentum untuk mempersatukan lagi masyarakat Jembed akan kejadian longsor.

“Ini adalah luka dan duka kita semua. Bukan hanya kami yang merasakannya, saya rasa semua warga Padang yang mengetahui peristiwa tersebut pada 2005 silam tentu akan merasakan kesedihan yang sama,” ucapnya.

Selain menggelar pengajian dan tausiyah bagi korban longsor, pihaknya juga tidak lupa melakukan doa bersama terhadap korban gempa bumi yang melanda Nusa Tenggara Barat (NTB) selama satu bulan belakangan ini.

“Mereka adalah saudara kita sebangsa dan senegara, kami merasakan betul bagaimana penderitaan mereka. Doa bersama ini dilaksanakan sebagai bentuk keprihatinan akan peristiwa tersebut,” ucap Wen.

Ketua Nahdlatul Ulama (NU) Kota Padang, Tuanku Yultel Ardi Malin yang memimpin jalannya tausiyah di kawasan Jembed tersebut mengatakan bahwa kematian adalah suatu hal yang tak dapat dielakkan oleh manusia dan makhluk apapun di muka bumi.

“Semua itu hanya Tuhan yang mengetahui. Tugas kita sebagai umat manusia adalah tetap bertakwa kepada-Nya dan menyiapkan amal baik sebanyak-banyaknya. Bagaimana cara kita menghadap sang kuasa itu tidak tahu, kapan dan dimananya,” ujarnya.

Dirinya juga mengapresiasi langkah yang diambil masyarakat dengan juga menggelar doa bersama bagi korban gempa bumi di Lombok.

“Maka ini akan semakin mempererat persatuan dan hubungan sesama umat manusia. Selain persatuan sesama umat muslim. Baik dia muslim ataupun tidak, yang penting mereka di Lombok itu adalah saudara kita sesama manusia dan sebangsa. Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak membantu mereka,” ujar Yultel.

Sementara itu Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Lubuk Begalung Ramlan mengatakan bahwa musibah bukan merupakan sebuah azab, melainkan cara Tuhan menyayangi umat-Nya.

“Tujuannya agar kita lebih dekat dan memperkuat rasa keimanan dan ketakwaan kepada sang Maha Pencipta,” ulasnya.

Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh perwakilan dari Polsek Lubuk Begalung, Koramil 04/Lubuk Begalung, pemuka masyarakat dan sejumlah kalangan yang turut larut dalam doa dan zikir bersama.

[Muhammad Aidil]




Bagikan:
Topik: , , , ,
Loading...