Mengkritik dan Meninjau Film Bukan Hal Yang Sama

Mengkritik dan Meninjau Film Bukan Hal Yang Sama
Ilustrasi. (net)
Bagikan:




PADANG – Dalam melakukan kritikan terhadap sebuah film, seorang pengkritik atau disebut kritikus harus memahami alur cerita atau pesan moral yang disampaikan dalam sebuah adegan.

“Kritik film berarti melihat film sebagai produk budaya. Sebagai produk budaya berarti melihat dinamika kebudayaan masyarakat setempat,” ucap jurnalis senior Kompas Bre Berdana saat menyampaikan materi dalam Semiloka Penulisan Kritik Film di bilangan Permindo, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang, Sumatera Barat, Rabu, 12 September 2018.

Bre menyebut, kebudayaan yang dimaksud adalah cara berfikir, kecenderungan politik, sikap sosial-agama, fase-fase sosial yang dijalani dan lain sebagainya.

“Sehingga jika kita menilai kejelekan atau kekurangan sebuah karya film, itu bukan dinamakan kritik, melainkan hanya peninjauan ulang,” tambahnya.

Sementara itu, Kritikus film Ang Jasman mengaku ada banyak komponen yang perlu dipelajari untuk bisa mengkritik sebuah karya film. Sebagai langkah awal, kritikus harus kesesuaian antara genre, judul, sumber cerita, orang-orang yang terlibat dan poster film.

Setelah itu, kata Jasman, kritikus bisa menganalisa cerita yang digambarkan dalam film tersebut. Kritikus harus jeli melihat semua komponen yang ada dalam cerita tersebut, baik itu kelebihan atau kekurangannya.

“Tentu dalam menganalisa skenario (cerita) film ada beberapa faktor yang harus diperhatikan seperti plot, karakter, efek emosional dan ide,” sebutnya.

Tentunya untuk menguliti sebuah film, kritikus juga harus melihat lebih dalam cerita yang ditampilkan. Misalnya plotnya pada satu sama lain, masuk akal dan menarik untuk diikuti hingga film selesai.

“Tentunya yang menjadi sorotan dalam sebuah cerita itu konflik yang dihadirkan. Kritikus bisa melihat sejauh mana konflik ini berkembang dan membuat cerita ini menarik,” terang Jasman.

Terlepas dari itu semua, seorang kritikus juga harus memperhatikan faktor waktu, kondisi sosial, adat dan kebiasaan, editing, musik, dan efek suara,” tukasnya. (*)




Bagikan:
Topik: , ,
Loading...