Objek Wisata Baru di Bukittinggi Punya Syarat Tertentu, Apa Itu?

Objek Wisata Baru di Bukittinggi Punya Syarat Tertentu, Apa Itu?
Dengan adanya objek wisata baru di Bukittinggi, diharapkan dapat mendongrak Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Bagikan:

BUKITTINGGI, RedaksiSumbar.com – Sebuah terobosan baru objek wisata kini hadir di Kota Bukittinggi berkat kreatifitas seorang pemuda yang memanfaatkan lahan tidur di hamparan luas Ngarai Sianok, Kelurahan Kayu Kubu, yang diberi nama Cottage dan Rumah Pohon Inyiak.

Objek wisata keluarga bernuansa keelokan alam dan menggunakan konsep tradisional ini akan beroperasi mulai Desember 2017 mendatang, namun saat ini sudah mulai dapat dimanfaatkan bagi para pengunjung yang akan menikmati keindahan Ngarai Sianok dalam wujud cottage dan rumah pohon.

Pemilik lahan, Heru Pribadi Datuak Rang Kayo Labiah usai menggelar pertemuan dengan tokoh masyarakat dan awak media, Kamis (26/10/2017) lalu menuturkan, lahan yang digunakan untuk objek wisata ini merupakan tanah ulayat milik persukuan Sikumbang.

“Lahan ini sudah lama tidak terpakai, sehingga ditumbuhi semak, belum lagi lokasi nya di Ngarai Sianok, sehingga tidak ada rencana apapun sebelumnya untuk menggarap lahan itu,” ulasnya.

Namun setelah muncul ide dari salah seorang pemuda bernama Ismael yang berencana memanfaatkan lahan tidur itu untuk objek wisata sambung salah seorang tokoh masyarakat lainnya, Heru Pribadi, barulah pihak kaum Suku Sikumbang mengizinkan mengolah lahan seluas 3,6 hektar ini.

“Sehingga dengan hadirnya objek wisata dilokasi ini akan mendukung program ini, yang sangat cocok nantinya dimanfaatkan untuk lokasi wisata keluarga, karena juga dilengkapi dengan penginapan,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Inyiak Ismael, pengelola objek wisata terbaru tersebut menuturkan, di lokasi tersebut akan dibangun 40 sampai 50 penginapan, yang terbuat dari material bambu, dan dengan konsep rumah panggung semi permanen, dimana rancangannya akan mengacu pada beberapa rumah adat dari beberapa daerah di Indonesia.

“Konsep wisata di lokasi ini menonjolkan budaya tradisonal Minangkabau, yang dilengkapi dengan rumah pohon, sarana penginapan, tempat santai yang cocok untuk lokasi berkumpul menikmati keindahan alam Ngarai Sianok, tempat bermain, dan sarana edukasi atau pendidikan bagi anak-anak,” jelasnya.

Menurut Ismael, konsep cottage dan rumah pohon ini berbeda dengan tempat lainnya. Pasalnya, setiap bangunan dibuat dari bahan alami dari bambu dan kayu pilihan yang dipakai untuk tiang bangunan, dinding dan lantai, sedangkan atapnya terbuat dari jerami padi, sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.

“Saat ini pembangunannya sudah 70 persen, dan diharapkan pada Desember 2017 mendatang sepenuhnya telah selesai, sehingga dapat dimanfaatkan pengunjung dan wisawatan yang ditargetkan juga hadir dari berbagai daerah di Indonesia, serta wisatawan mancanegara,” ujarnya.

Untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan sambung Ismael, tempat wisata tersebut ini tidak akan menerima pasangan muda-mudi yang dikhawatirkan akan melakukan perbuatan yang mengarah ke maksiat,

“Kami juga mengutamakan konsep penghijauan, dimana pohon akan dibiarkan tumbuh, dirawat, dan dijaga, nantinya juga diberi nama sebagai sarana pendidikan pendidikan bagi seluruh pengunjung, dan nantinya anak-anak juga dapat mengenal apa nama pohon yang ada dilokasi ini,” ungkapnya.

Dirinya menambahkan, untuk izin tempat usaha telah diusulkan pada Pemerintah Kota (Pemko) Bukittinggi melalui Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, dan tahap sosialisasi pada tokoh masyarakat sekitar juga telah dilaksanakan, dan diharapkan seluruh pihak ikut mendukung dan mengawasi objek wisata tersebut.

Sementara itu Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kelurahan Kayu Kubu, Eril Anwar menilai, pemilik lahan dan pengelola perlu melakukan sosialisasi secara menyeluruh kepada masyarakat, sehingga keberadaan objek wisata ini mendapat dukungan penuh, dan tidak ada pihak yang dirugikan nantinya.

“Terutama dengan adanya penginapan, karena sarana ini dikhawatirkan dapat menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan, sekaligus mengantisipasi munculnya gejolak dari masyarakat, maka dari itu perlu dimusyawarahkan bersama terutama dengan Ninik Mamak kaum pasukuan Sikumbang,” ulasnya.

Eril Anwar menambahkan, pemilik lahan dan pengelola juga perlu menjelaskan secara rinci konsep yang ada di objek wisata cottage dan rumah pohon Inyiak itu, termasuk aturan yang harus dipatuhi oleh para pengunjung, terutama bagi mereka yang nantinya menginap, perlu diberikan pengarahan khusus, sehingga dapat menjaga nama baik Desa Wisata Kelurahan Kayu Kubu ini. [KJA/Red]

Bagikan:
Tags: , ,
Loading...

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan