Ditinggal Mati, Gajah Pejantan di Bukittinggi Menjadi Pemurung

Ditinggal Mati, Gajah Pejantan di Bukittinggi Menjadi Pemurung
Lokasi kebun binatang di Kota Bukittinggi. IST.
Bagikan:

BUKITTINGGI, RedaksiSumbar.com – Sejak kematian satu individu gajah betina bernama Bita (28) pada 26 September 2017 lalu di Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan (TMSBK) atau Kebun Binatang Bukittinggi, di lokasi kandang gajah, terlihat pasangannnya Zidan (30) yang berumur 30 tahun, masih terlihat murung, kakinya pun dalam kondisi terikat.

Pawang Gajah TMSBK Bukittinggi, Muzakir kepada RedaksiSumbar.com mengatakan, perilaku Zidan seperti ini sudah terlihat setelah kematian Bita. Hari-hari Zidan hanya diisi dengan meratapi kuburan Bita, dan mengingat-ingat masa mereka hidup sekandang berdua.

“Meski kondisi tubuhnya sampai saat ini dalam keadaan baik, namun Zidan memang terlihat agak berubah dan tertekan. Gundukan tanah bekas timbunan kuburan Bita masih kerap dicium-cium, diambil, dimakan dan dilempar-lemparkan ke tubuhnya,” ujar Muzakir, Jumat (20/10/2017).

Menurut Muzakir, reaksi Zidan seperti ini belum pernah terjadi, dan untuk menjaga perasaan dan kondisi tubuh Zidan, Walikota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias sendiri telah menginstruksikan untuk memberi perhatian khusus pada Zidan.

“Sebagai tindak lanjut Zidan diberi obat untuk mempertahankan nafsu makan, serta mengurangi waktu khusus untuk Zidan menyendiri dengan mengajaknya bermain,” ulasnya.

Sementara itu Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Kadisparpora) Kota Bukittinggi, Erwin Umar mengatakan, pihaknya kini tengah mengajukan permohonan penambahan satwa gajah betina pengganti Bita pada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat.

“Pihak Disparpora berharap permohonan itu segera diproses, sehingga Zidan mendapatkan pasangan baru, dan sifatnya kembali ceria seperti dahulu,” ujarnya.

Erwin Umar menambahkan, apabila permohonan telah disetujui maka dalam waktu dekat Zidan segera mempunyai pasangan baru, tidak murung lagi, karena dikhwatirkan apabila berlarut Zidan mungkin saja bisa jatuh sakit, tentunya hal ini tidak diinginkan pihak TMSBK.

“Gajah Sumatera dengan nama latin Elephas Maximus Sumatrensis, merupakan jenis satwa yang mempunyai kekuatan daya ingat dan perasaan yang sensitif dan pendendam, maka dari itu pengusulan penambahan gajah betina pengganti ini hendaknya segera direalisasikan,” terangnya.

Walikota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias mengatakan, bahwa segala upaya telah dilakukan untuk menyelamatkan gajah betina bernama Bita itu ketika masih hidup. Ke depan, pihaknya berharap agar kejadian yang sama tidak terulang pada hewan lainnya, Pemko Bukittinggi meminta pada pihak TMSBK untuk melaporkan kondisi kesehatan satwa per satu minggu dan per satu bulan, sehingga saat ada hewan yang sakit dapat dilakukan pertolongan.

“Di TMSBK Bukittinggi ini terdapat sepasang gajah. Dengan matinya gajah betina bernama Bita ini, sekarang hanya tinggal seekor Gajah jantan bernama Zidan, dan ke depan Pemko Bukittinggi akan berupaya mendatangkan seekor gajah betina lagi, untuk menemani Zidan ini,” katanya. [KJA/RED]

Bagikan:
Tags: , ,
Loading...

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan