Penggiat Kesenian Anak Nagari: Budaya Merupakan Jati Diri Suatu Daerah | Redaksi Sumbar

Penggiat Kesenian Anak Nagari: Budaya Merupakan Jati Diri Suatu Daerah

Penggiat Kesenian Anak Nagari: Budaya Merupakan Jati Diri Suatu Daerah Dibaca : 315 Kali
Bagikan:

SIJUNJUNG, RedaksiSumbar.com – Budaya merupakan sebuah kepribadian dan jati diri suatu daerah. Di Kabupaten Sijunjung, salah satu cara mempertahankan dan melestarikan seni budaya Minang kepada generasi muda, dengan mengaktifkan kegiatan kesenian anak nagari yang saat ini sudah mulai redup, bahkan sudah jarang ditemui dibeberapa daerah.

Tepatnya di Nagari Muaro, Kecamatan Sijunjung, konsistensi untuk hal tersebut bisa dilihat dengan keaktifan kesenian randai yang merupakan kesenian tradisional di ranah Minang. Pengkaderan dan regenerasi terhadap anak-anak di nagari untuk kesenian randai patut diapresiasi,
bahkan randai sudah menjadi hobi bagi kalangan remaja dan pemuda nagari. Mereka dilatih untuk tahu dan paham akan tata cara dan makna pesan yang ada pada randai yang saat ini tidak semua daerah lagi memilikinya.

Sebagaimana fungsinya, randai tidak hanya sekedar tarian yang diiringi dengan musik dan nyanyian saja, akan tetapi kisah yang diceritakan memiliki makna dan petuah tentang tata cara dan norma adat yang di junjung tinggi dalam hidup bermasyarakat di Minangkabau, berisikan nasehat kepada pemuda Minang tentang hal-hal yang harus dan sumbang (tabu) untuk dilakukan dalam keseharian. Dalam kehidupan bermasyarakat, Minangkabau memiliki aturan dan norma untuk menjaga kestabilitasan bersama, dan salah satu cara penyampaian petuah tersebut dituangkan kedalam kesenian randai melalui cerita dan hikayat.

Agaknya, randai memiliki ciri khas sorakan (gorai) dan tepukan celana yang berukuran lebar (galembong) tersebut tidak lagi santer beredar di kalangan remaja Minangkabau. Memang masih banyak yang tahu apa itu randai, tapi peran dan fungsi atau bahkan cara memainkannya tidak
banyak lagi yang paham lantaran lambat laun sudah mulai tertimbun era modernisasi. Setiap gerakan dan kata-kata yang dituturkan memiliki makna dan maksud tertentu dalam penyampaian kepada penonton. Terdapat
nilai yang dikiaskan dalam lantunan nyanyian dan kisah, dengan tujuan pendengar bisa mengambil hikmahnya dan di implementasikan dalam kehidupan.

Baca Juga :  ​Pembangunan Pondok Pesantren Syekh Amiluddin Sijunjung Butuh Danator

“Randai merupakan permainan dan tarian yang kaya akan makna tersirat dengan cara kiasan, susunan kata dalam kisah cerita (dendang) dilantunkan dengan nada dan irama yang khas. Memang untuk saat ini Randai tidak setenar dulu, tak banyak lagi pemuda sekarang yang pandai
memerankan ataupun yang paham akan makna ceritanya. Langkah dan gerak gerik tarian diambil dari gaya beladiri Minangkabau itu sendiri (silek minang), yang mana itu semua merupakan kesenian dan budaya kita di
ranah Minang ini,” tutur Pendi yang merupakan pelatih randai Bungo Satangkai di Nagari Muaro.

Pada umumnya, dibeberapa nagari yang ada di Kabupaten Sijunjung masih menjaga kesenian randai ini, hal itu terlihat disaat acara perayaan HUT Kabupaten Sijunjung yang secara khusus mengadakan perlombaan randai. Bahkan, kegiatan tersebut merupakan salah satu acara yang sangat di tunggu-tunggu oleh masyarakat di kabupaten yang berjuluk ranah Lansek Manih ini, peminatnya banyak, begitu juga dengan peserta lomba yang menjadi utusan tiap nagari/jorong akan menampilkan kemampuan terbaik mereka.

Selain untuk diperlombakan, para pemain randai Bungo Setangkai ini mengaku juga kerap kali mendapat undangan untuk mengisi acara, seperti pesta pernikahan dan perayaan lainnya. “Kita juga sering mendapat undangan ataupun permintaan untuk mengisi acara, baik itu keluar
daerah maupun di dalam Kabupaten Sijunjung. Selain itu, kita juga melatih ataupun berlatih bersama pemain randai yang berasal dari nagari lain, tapi secara jadwal kita latihan satu kali dalam seminggu,” tutur Nofri salah satu pemain randai.

Disamping untuk bertujuan melestarikan kembali budaya kesenian anak nagari, Pendi yang juga pernah menjabat sebagai ketua pemuda nagari tersebut mengatakan. “Kita sebagai orang tua sengaja mengadakan kegiatan yang bersifat positif ini, salah satu cara untuk mencegah
terjadinya pergaulan remaja yang berdampak buruk pada zaman sekarang ini, melalui bimbingan dan pengawasan itulah hal tersebut kita cegah, dan dalam komunitas/kelompok randai ini rasa kebersamaan dan
kekeluargaan kita tumbuhkan. Randai adalah budaya kita, kita wajib menjaganya,” tambahnya saat ditemui disela-sela latihan. [Ari Ayek]

Bagikan:
Tags: , ,
Solok Selatan dalam Berita

No Responses


close