Plafon Uang Pinjaman Pensiunan Polisi Ini Naik Secara Tiba-tiba di Koperasi Nusantara

Plafon Uang Pinjaman Pensiunan Polisi Ini Naik Secara Tiba-tiba di Koperasi Nusantara
ilustrasi pencuri uang (dok: google).
Bagikan:

NASIONAL, RedaksiSumbar.com – Diduga tak bertanggungjawab atas pencairan uang pensiunan seorang anggota Polri yang tinggal di Palembayan Tangah Kecamatan Palembayan Kabupaten Agam Provinsi Sumatera Barat, oleh perusahaan Pos Simpan Pinjam Koperasi Nusantara, membuat pihak keluarga masih mencari keadilan.

Pensiunan Polri yang bernama Ruklis Rakuna (72) itu kaget saat uang pinjamann Makro di ‘Koperasi Nusantara’ ‘PT.POS Indonesia’ pada tahun 2008 sebanyak Rp.46.500.000 dengan angsuran Rp.1.224.500 perbulan dengan tenor selama 10 tahun, naik secara tiba-tiba pada tahun 2010 menjadi Rp.66.000.000 dengan angsuran Rp.1.545.000 perbulannya. Dan pinjaman Mikro pada tanggal yang sama sebanyak Rp. 4.500.000 dengan ansuran Rp.213.650 perbulannya dengan tenor selama 3 tahun, naik secara tiba-tiba pada tahun 2009 menjadi Rp.9.200.000 dengan angsuran Rp.447.836 perbulannya.

Hal tersebut diketahui oleh anak ke 4 dari Ruklis bernama Lenny Hukri Yanti (43) pada tahun 2012, dan dilaporkan kepihak kepolisian Resor Bukittinggi pada tahun 2013 dengan nomor laporan LP/ 160/ K/ V/ 2013/ perkara tindak pidana pemalsuan tanda tangan yang terlapornya masih dalam lidik, setelah melakukan komplen kepada pihak ‘Koperasi Nusantara’.

” Kami menyadarinya pada tahun 2012, karna ayah saya tidak tahu menahu soal naiknya angsuran pinjamannya di ‘Koperasi Nusantara’ yang dipotong dari uang pensiunannya, ayah saya menerima uang pensiunan sebanyak Rp.1.865.000 perbulannya sejak tahun 2010 “, ucap Lenny.

Dalam laporan polisi tersebut, Korban juga telah melalui pemeriksaan berita acara pembanding tanda tangan yang dilakukan oleh penyidik Polres Bukittinggi bernama Brigadir Sadrianto pada tanggal 26 bulan Januari tahun 2015 lalu, meski sudah menggunakan jasa pengacara, namun perkara tidak berjalan lagi.

” Kami juga sudah pernah melaporkan kasus ini kepihak Polres Bukittinggi dengan didampingi pengacara, Ayah saya juga telah melalui pemeriksaan berita acara pembanding tanda tangan di kantor polisi “, tambahnya.

Usai dari itu, Lenny juga mencari keadilan kepihak BPSK (Badan Perlindungan Sengketa Konsumen) Bukittinggi pada tahun (27/6/14) dengan hasil surat tanggapan gugatan oleh pihak ‘Koperasi Nusantara’ yang menyatakan bahwasanya Rulkis datang sendiri kekantor ‘Koperasi Nusantara’ Bukittinggi untuk memperkecil angsuran dan memperpendek jangka waktu.

Keterangan surat dari ‘Koperasi Nusantara’ ke pihak BPSK Bukittingi yang dijelaskan oleh Wahyu Badia Raja Sibarani selaku Kepala Koperasi Nusantara Bukittinggi menyatakan pihak penggugat tidak pernah hadir memenuhi pangilan pihak BPSK untuk melakukan konfirmasi dan konsilasi dan hanya diwakili oleh anak penggugat yakni Lenny.

Selain itu, menurut surat tanggapan gugatan tersebut, Pengajuan kredit telah dilakukan sesuai prosedur serta diketahui oleh juru bayar pensiun dan Ruklis juga dikatakan telah memberikan kuasa kepada juru bayar dalam rekomendasi memberikan dan penyetoran gaji pensiunan kepada pihak ‘Koperasi Nusantara’.

Surat tanggapan keterangan dari pihak ‘Koperasi Nusantara’ tersebut juga mempertanyakan Ketidak hadiran dan keberadaan Ruklis sebagai penggugat, dan surat tersebut juga dijawab oleh pihak BPSK Bukittinggi dengan keterangan bahwasanya penggugat sudah mulai mengalami sakit.

” Hampir keseluruhan surat keterangan gugatan ke BPSK dari pihak ‘Koperasi Nusantara’ itu bohong, karna saya dan ayah saya selalu hadir dalam konfirmasi dan konsilasi di kantor BPSK tersebut”, tegas Lenny.

Lenny selaku anak kandung dari pensiunan polri tersebut hingga kini masih mencari keadilan terhadap pembodohan dan penipuan yang dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab atas uang pensiunan ayahnya tersebut. Padahal dibulan Juni 2018 nanti, uang pinjaman yang tak diketahui plafonnya naik tersebut akan segera lunas.

” Kesalahan Ayah saya adalah mempercayakan seluruh uang pensiunannya kepada pihak juru bayar pensiun di Kecamatan Palembayan dan ‘Koperasi Nusantara’ Bukittinggi, sehingga ia tak mengetahui telah ditipu dan dipalsukan tanda tangannya oleh orang yang tak bertanggungjawab, dan saya sudah mendapatkan seluruh bukti naiknya plafon pinjaman ayah saya di ‘Koperasi Nusantara’ yang dipalsukan tanda tangannya oleh seseorang yang belum diketahui”, tutupnya. [Iskandar Rahman]




Bagikan:
Topik: , , ,
Loading...