Sawmell PT Banyu Argo Setia Prima Di Dharmasraya Diduga Kangkangi UU No 41 Tahun 1999

Sawmell PT Banyu Argo Setia Prima Di Dharmasraya Diduga Kangkangi UU No 41 Tahun 1999
Tampak onggokan kayu di lokasi PT. Banyu Argo Setia Prima, Dharmasraya. [WN]
Bagikan:

DHARMASRAYA, RedaksiSumbar.com – PT. Banyu Argo Setia Prima di Jorong Muaro Momong, Nagari Sungai Kambuik, Kecamatan Pulau Punjung, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat (Sumbar) diduga kangkangi UU Nomor 41 Tahun 1999, Pasal 50 ayat 3 tentang peredaran hasil hutan harus di lengkapi dengan dokumen yang sah.

Pantauan RedaksiSumbar.com di lapangan Rabu (12/7/2017), tampak adanya aktivitas pengolahan kayu masih berlangsung. Kayu bulat dibentuk menjadi beberapa potongan dan langsung dimuat ke mobil truck.

Dilokasi tersebut juga, terlihat Empat Unit Dump Truck terparkir di lokasi yang persis berada di pinggir Sungai Batang Hari itu.

Selain itu, nampak juga belasan pekerja sedang asik bekerja. Namun, saat dimintai keterangan, tak satupun yang mengaku berkapasitas untuk menjawab.

Koordinator Dinas Kehutanan Sumbar Wilayah Kabupaten Dharmasraya, Ali Nafri saat dikonfirmasi membenarkan mendapatkan informasi bahwa Saw Mell milik PT. Banyu Argo Setia Prima itu legalitasnya sudah dicabut.

“Izin usaha Saw Mell itu sudah dicabut oleh tim Penegakan Hukum Departemen Kehutanan Republik Indonesia, informasinya itu,” tegas Ali Nafri.

Saw Mell itu kabarnya milik Dedi Asmara, sudah menyalahi aturan. Infonya, Aturan yang dilanggarnya itu legalitas, selain itu juga kayu milik Dedi Asmara pernah tertangkap di Provinsi Lampung dalam tahun 2017 ini.

“Saya mendapat kabar, izin Saw Mell sudah dicabut kemenkumham. Hal itu otomatis terjadi karena kayunya pernah tertangkap dan tidak memiliki dokumen yang sah. Bahkan yang bersangkutan informasinya juga sudah ditetapkan sebagai DPO,” ungkapnya.

Setelah dikonfirmasi wartawan melalui teleponnya, Dedi Asmara langsung marah-marah kepada wartawan tanpa ada jawaban yang jelas. Dedi asmara, menyangkal jika usaha Saw Mell miliknya tidak berizin atau izinnya sudah mati.

“Kamu harus tau aturan, izin Saw Mell itu tidak ada matinya seperti izin lainnya. Kalau izin galian C ada masa berlakunya tapi izin Saw Mell tidak ada matinya,” ujarnya dengan nada keras.

Bahkan Dedi asmara juga melempar persoalan tersebut ke Dinas Kehutanan Propinsi Sumatera Barat yang berkedudukan di Kota Padang. Karena, yang memiliki kewenangan terkait hal tersebut adalah mereka.

“kamu tidak tahu siapa saya, Kalau mau tanya soal perizinan ke Padang saja, jangan ke saya. Izin Saw Mell itu gak ada masa berlakunya. Berlaku terus,” ucapnya seraya menantang wartawan.

Disamping itu, salah seorang pegawai Dinas Kehutanan Propinsi Sumatera Barat yang membidangi Perizinan, Syamsul Bahri saat dikonfirmasi mengatakan saat ini dirinya sedang diluar kota mengikuti pelatihan.

“Agar persoalan izinnya jelas, lebih bagusnya langsung saja menanyakan ke Kantor Dinas Kehutanan, sebab disana saya sedang mengikuti pelatihan di luar kota,” ujarnya singkat.

Secara terpisah, Kapolres Dharmasraya, AKBP Roedy Yoelianto saat dikonfirmasi mengatakan, segera melakukan penyelidikan terkait persoalan tersebut. “Nanti saya coba cek ke Kasat Reskrim,” sebutnya. [WN]

Bagikan:
Tags: , ,
Loading...

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan