Setiap Daerah Harus Punya Komoditi Unggulan Berbeda

Setiap Daerah Harus Punya Komoditi Unggulan Berbeda
Dalam tatap muka dengan kelompok tani di Alahan Panjang, Emma Yohanna meminta setiap daerah agar punya komoditi unggulan masing-masing di setiap daerah. (IST)
Bagikan:




SOLOK, RedaksiSumbar.com – Dalam rangka kegiatan kunjungan kerja (Kunker) ke daerah, Anggota Komite II DPD RI Hj. Emma Yohana menggelar dialog dengan 150 orang yang berasal dari kelompok tani Alahan Panjang, di Gedung Pertemuan Villa Danau Kembar, Kabupaten Solok, Kamis (11/1/2017).

Salah seorang petani Burhanudin Rajo Lelo dari Kelompok Tani Muaro mengeluhkan harga bawang yang tidak stabil, padahal petani sudah menanam bawang sebanyak-banyaknya sesuai arahan pemerintah karena kabupaten Solok menjadi sentra bawang merah di Sumatera.

“Keluhan kami para petani harga bawang yang tidak stabil, untuk itu kami minta kepada Hj. Emma Yohanna bisa memperjuangkannya,” ujar Burhanudin.

Menjawab pertanyaan tersebut, Hj. Emma Yohanna berjanji akan memperjuangkan harga bawang merah tersebut melalui DPD RI dengan menggelar pertemuan dengan Kementerian Pertanian dan juga dengan pemerintah daerah.

Menurutnya pemerintah harus memastikan harga bawang merah harus tetap stabil, supaya petani tidak rugi. Selain itu juga harus ada ciri khas komoditi masing-masing daerah, jangan sampai satu daerah memiliki komoditi unggulan yang sama.

“Jika Kabupaten Solok menjadi sentra bawang merah, maka daerah lain mesti fokus pada komoditi yang lain. Untuk itu pemerintah memberikan fasilitasi agar para peyani tersebut mampu memiliki keunggulan di masing-masing komoditi.

Di samping itu, Emma Yohanna mengingatkan pemerintah untuk menyediakan gudang penyimpanan bawang supaya komoditi tersebut bisa awet dan mudah tidak membusuk.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian, Admaizon mengharapkan para petani bisa bergabung kepada kelompok tani yang sudah memiliki Surat Keputusan (SK) dari Bupati Solok supaya bisa mendapatlan program-program pembinaan petani dari Bupati Solok.

“Saat ini sudah ada 1.286 kelompok tani bawang merah yang memiliki SK dari Bupati Solok,” ungkapnya.

Ia mengakui bahwa harga bawang memang selalu berfluktuasi maka dari itu petani harus menyiapkan diri jika sewaktu-waktu harga bawang turun. Untuk itu pemerintah darerah akan terus mengawal harga bawang merah dan komiditi lainnya supaya berpihak kepada petani.

“Kabupaten Solok memang menjadi sentra bawang merah secara nasional, kami menargetkan agar tersedia 10 ribu hektar lahan hingga 2019 mendatang, untuk itu kami minta kepada petani bisa mensukseskan program pemerintah tersebut,” katanya. [Red]




Bagikan:
Topik: , , ,
Loading...