Proses Pembuatan Senjata Berburu Suku Mentawai

Proses Pembuatan Senjata Berburu Suku Mentawai
Sunber :dananwahyu.Com

MENTAWAI, RedaksiSumbar. Com–Panah merupakan senjata utama Suku Mentawai yang mendiami pulau yang ada di Kepulauan Mentawai Sumatera Barat, pembuatan panah dan busur tersebut tidak mudah dibutuhkan waktu setidaknya dua bulan untuk membuat sebuah busurnya saja. Itu belum termasuk membuat anak panahnya.

Bahan dasar pembuatan Busur panah dibuat dari Paddegat
(jenis pohon aren) yang tua.
Tanaman itu biasa tumbuh di rawa-rawa.Panjang busur panah Mentawai mencapai 182 sentimeter, sementara lebarnya seukuran ibu jari orang dewasa dengan kedua ujungnya dibuat mengerucut.

Proses pembuatan busur tersebut pertama kali dengan mengambil batang kemudian dibentuk persegi panjang, setelah itu kayu tersebut dikeringkan selama dua bulan.Untuk penghalusan busur sendiri bisa memekan waktu tiga hari.

Saat proses pembuatan busur dan anak panah saat membentuk busur panah suku Mentawai percaya adanya mukekei atau semacam pantangan yang harus ditaati pembuatnya, diantaranya dilarang makan-makanan mengandung minyak, seperti gulai dan gorengan.Selain itu, busur panah yang jangan sempat dilangkahi anak dan dilarang melakukan hubungan suami istri.Ini akan sangat fatal, kalau itu dilanggar binantan buruan tidak bakal kena panah. Walaupun kena tapi buruan tersebut tidak mati meskipun panah itu bagus.

Proses selanjutnya adalah memperhalus batang busur dengan diamplas.Amplasnya pun bukan sembarangan, melainkan menggunakan kulit ikan pari yang kering.Agar lebih halus dipakai daun kering yang dinamakan tobbit. Untuk membuat mengkilat dan seratnya tidak tampak, busur dipoles dengan kulit durian hutan. Setelah itu barulah membuat tali busurnya.Tali busurnya dari baiko atau sejenis kulit pohon sukun, dioles cairan bernama inam kalegat berwarna merah, sekaligus cat dan lemnya.Setelah itu dijemur hingga kering.Setelah selesai, kemudian menyumpahi panah tersebut dengan cara musibla.Berikutnya membuat sarangnya dari bambu. Bambu tersebut terlebih dulu direndam selama tiga hari lalu dijemur sampai warnanya keputihan.Agar lebih bagus, dilapisi kulit sagu.Barulah ke tahap selanjutnya yakni membuat anak panah atau biasa disebut silogui. Bahan anak panah adalah osi sepanjang 55 sentimeter. Sementara bagian ujung mata panah menggunakan kayu ruyung sepanjang 35 sentimeter.Anak panah terlebih dahulu dikeringkan dan dibersihkan dengan cara digosok menggunakan abu dan pasir.Osi biasa tumbuh dirawa-rawa di pinggiran laut. Ukurannya sebesar jari kelingking dewasa. Ujung osi dibalut dengan serat semak atau giptek agar tidak mudah pecah. Kemudian diberi onam atau semacam lem agar kuat dan lengket.Ujung mata tanah juga diberi kayu nibung lalu ujungnya diberi tempat khusus untuk racun. Selain nibung, mata panah juga bisa dibuat dari besi putih atau tembaga. Namun kelemahannya besi bisa berkarat.

Bicara soal racunnya, hal yang tak kalah menarik, bahannya dibuat dari tumbuh-tumbuhan yang ada di sekitar tempat tinggal. Hebatnya, meski hewan buruan mati karena racun dari panah tersebut, namun orang yang mengonsumsi hewan itu tidak akan terkena dampaknya.Racun panah yang terlilat dan termakan tidak akan membunuh.Yang diserang rancun itu adalah organ vital jantung dan hati lewat pembuluh saluran darah.

Tapi kalau panah yang sudah dikasih racun itu tertancap di tubuh manusia, maka hanya hitungan menit badan langsung meregang,” bebernya.Racun dibuat dari daun omai, akar tuba, lengkuas (baklai), cabai rawit (daro siogoisok). Bahan-bahan itu dicampur dan diperas sampai airnya keluar. Tapi, itu belum semua.

Ada bahan lain yang sengaja tidak disebut.Karena suku Mentawai menjadikan itu rahasia suku mereka, proses selanjutnya, ujung panah dipoles berulang kali menggunakan kuas yang dibuat dari ekor tupai.Saat membuat racun harus benar-benar bersih. Sebelum membuatnya harus mandi dan selesai juga harus mandi.Memoles ujung panah ini dilakukan berkali-kali sampai racunnya habis. Kadang setengah gelas untuk 25 anak panah. Setelah selesai, anak panah dijemur. Kalau sudah kering barulah bisa dipakai untuk berburu, Racun panah bisa bertahan sekitar enam bulan. Kalau sudah lewat, racun itu tidak mujarab lagi.

[Tim Liputan]

Loading...